Demokrasi dan Gerakan Sosial
SIMPUL - Data sejarah menunjukkan adanya akumulasi yang terus bertambah tentang berbagai kisah perlawanan politik dan gerakan-gerakan penentangan terhadap pemegang kekuasaan yang dianggap otoriter dan represif di seluruh penjuru dunia. Para ahli umumnya bersepakat bahwa dalam beberapa dekade terakhir, variasi, frekuensi dan intensitas gerakan dan perlawanan politik semakin bertambah dan kompleks. Ini antara lain tampak dari munculnya gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat, gerakan-gerakan perdamaian, lingkungan, dan feminis, serta perlawanan terhadap otoritarianisme baik di Eropa maupun di negara-negara berkembang telah membawa massa ke jalan-jalan untuk menuntut perubahan.
Hal yang sama dilakukan oleh kaum ekstrimisme religius Islam dan Yahudi di negara-negara Timur Tengah, militanisme Hindu di India, fundamentalisme Kristen di Amerika Serikat, serta nasionalisme etnis di Balkan dan bekas Uni Sovyet. Gerakan-gerakan itu sering berhasil, tapi jika pun mereka gagal, aksi-aksi mereka telah mempengaruhi perubahan-perubahan politik, kultural, dan bahkan internasional.
Gerakan dan perlawanan politik serupa itu juga terus bermunculan di Indonesia. Dari jejak historis, kita memiliki khasanah dokumentasi tentang pemberontakan petani pada masa kolonial, gerakan nasionalisme pada awal abad ke-20, gerakan demokratisasi, gerakan feminisme, dan gerakan lingkungan pada masa orde baru hingga kini, serta gerakan ‘anti-globalisasi’ sejak akhir tahun 1990-an hingga sekarang. Kesemua itu telah menimbulkan banyak perubahan berarti di negeri nusantara ini. Tanpa harus melebih-lebihkan, kesemua itu juga memiliki pertautan baik langsung maupun tidak langsung dengan proses penguatan dan pendewasaan demokrasi yang terus bergulir sejak kejatuhan rezim Orde Baru. Pertautan tersebut tampaknya masih akan terus terjadi di masa-masa yang akan datang.
Dalam upaya memahami dan menjelaskan fenomena Gerakan Sosial, para ahli ilmu sosial telah mengembangkan khasanah pengetahuan dan wacana yang sangat kaya dan terus berkembang hingga kini. Pada dataran teoritis, hal ini telah melahirkan berbagai teori tentang gerakan sosial. Beberapa diantaranya adalah teori tindakan kolektif (collective action/behavior), teori ‘nilai tambah’ (value added) J. Smelser, teori mobilisasi sumberdaya (resource mobilization), teori proses politik (political process), dan teori gerakan sosial baru (new social movement).
Dalam kaitannya dengan fenomena Gerakan Sosial, kemudian dikenali istilah Gerakan Sosial Baru (New Social Movement) yang merupakan bentuk lain dari Gerakan Sosial itu sendiri. Merujuk ke Pichardo dan Singh, ciri menonjol GSB yang dianggap membedakannya dari gerakan sosial ’lama’ atau tradisional, dapat diformulasikan sebagai berikut.
Ideologi dan Tujuan. GSB menanggalkan orientasi ideologis yang kuat melekat pada gerakan sosial lama, sebagaimana sering terungkap dalam ungkapan-ungkapan ’anti-kapitalisme’, ’revolusi kelas’, dan ’perjuangan kelas’. GSB menepis semua asumsi Marxian bahwa semua perjuangan dan pengelompokan didasarkan atas konsep kelas. Dengan penekanan pada isu-isu spesifik yang non-materialistik, GSB tampil sebagai perjuangan lintas kelas. Singh (2001) menambahkan bahwa GSB pada dasarnya merupakan bentuk respon terhadap hadir dan menguatnya dua institusi yang menerobos masuk ke hampir semua relung kehidupan warga, yakni negara (the state) dan pasar (the market).
GSB membangkitkan isu ’pertahanan diri’ komunitas dan masyarakat untuk melawan ekspansi aparat negara dan pasar yang makin meningkat. Ekspresi terjelasnya mewujud dalam lahirnya agen-agen yang memperjuangkan pengawasan dan kontrol sosial, kaum urban marginal, aktivis lingkungan, kelompok anti otoritarian, kaum anti rasisme, dan juga para feminis. GSB melawan tata sosial dan kondisi yang didominasi oleh negara dan pasar dan menyerukan sebuah kondisi yang lebih adil dan bermartabat.
Taktik dan Pengorganisasian. GSB umumnya tidak lagi mengikuti model pengorganisasian serikat buruh industri dan model politik kepartaian. GSB lebih memilih saluran di luar politik normal, menerapkan taktik yang mengganggu (disruptive), dan memobilisasi opini publik untuk mendapatkan daya tawar politik. Para aktivis GSB juga cenderung mempergunakan bentuk-bentuk demonstrasi yang sangat dramatis dan direncanakan matang sebelumnya, lengkap dengan kostum dan representasi simboliknya.
GSB berupaya membangun struktur yang merefleksikan bentuk pemerintah representatif yang mereka inginkan. GSB mengorganisasi diri mereka dalam gaya yang mengalir dan tidak kaku untuk menghindari bahaya oligarkisasi. Mereka berupaya merotasi kepemimpinan, melakukan pemungutan suara untuk semua isu, dan memiliki organisasi ad hoc yang tidak permanen. Mereka juga mengembangkan format yang tidak birokratis sambil berargumen bahwa birokrasi modern telah membawa kepada kondisi dehumanisasi. Singkatnya, mereka menyerukan dan menciptakan struktur yang lebih responsif kepada kebutuhan-kebutuhan individu, yakni struktur yang terbuka, terdesentralisasi, dan non-hirarkis.
Partisipan atau Aktor. Partisipan GSB berasal dari berbagai basis sosial yang melintasi kategori-kategori sosial seperti gender, pendidikan, okupasi dan kelas. Mereka tidak terkotakkan pada penggolongan tertentu seperti kaum proletar, petani, dan buruh, sebagaimana aktor-aktor gerakan sosial lama yang biasanya melibatkan kaum marginal dan teralienasi. Para aktor GSB berjuang melintasi sekat-sekat sosialnya demi kepentingan kemanusian (Singh, 2001). Karena itu, aktor-aktor GSB juga berbeda dari gerakan sosial lama yang biasanya melibatkan kaum marginal dan teralienasi. Ada kesan yang kuat bahwa partisipan GSB umumnya berasal dari kalangan kelas menengah baru (the new middle class): sebuah strata sosial yang muncul belakangan yang bekerja di sektorsektor ekonomi non-produktif (baca: bukan industri pabrikan).
Mereka yang termasuk dalam kelompok ini umumnya tidak terikat oleh motif-motif keuntungan korporasi dan tidak bergantung pada dunia korporasi untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka umumnya bekerja di sektor-sektor yang sangat bergantung pada belanja negara seperti kaum akademia, seniman, agen-agen pelayanan kemanusian, dan mereka umumnya merupakan kaum terdidik (Pichardo, 1997). Aktor-aktor GSB, sebagaimana dikemukakan oleh Claus Offe (1985), dicirikan secara jelas oleh penolakan mereka terhadap basis identifikasi diri yang mapan, yang dalam bahasa politik sering disebut sebagai ’kiri’ atau ’kanan’, ’liberal’ atau ’konservatif’. Para aktor GSB juga tidak bisa dibedakan berdasarkan kelas, gender, suku, umur, lokalitas, dan seterusnya.
Medan atau Area. Medan atau area aksi-aksi GSB juga melintasi batas-batas region: dari aras lokal hingga internasional, sehingga mewujud menjadi gerakan transnasional. Karena itu pula strategi dan cara mobilisasi mereka pun bersifat global. Isu-isu yang menjadi kepedulian GSB melintasi sekat-sekat bangsa dan masyarakat, bahkan melintasi dunia manusia, menuju dunia alami. Dalam hal ini, GSB menampakkan wajah trans-manusia dengan mendukung kelestarian alam di mana manusia merupakan salah satu bagiannya. Ini secara jelas terpantul dari gerakan-gerakan anti nuklir, ekologi, perdamaian, dan sebagainya, yang menghamparkan kebersamaan warga dari beragam nasionalitas, kebudayaan dan sistem politik (Singh, 2001).
Dengan ciri-ciri tersebut di atas, GSB menampakkan wajah gerakan sosial yang plural. Pluralitas itu terpantul jelas dari bentuk-bentuk aksi GSB yang menapaki banyak jalur, mencita-citakan beragam tujuan, dan menyuarakan aneka kepentingan.
Suharko, Ph.D dikutip dalam Pengantar Buku Seri Demokrasi Ke-2
Judul buku : Buku Seri Demokrasi 2 "Gerakan Sosial"
Pengarang : PPSD
Penerbit : Averroes Press, 2007

